19 April 2015
09 Maret 2015
29 Oktober 2014
USAHA KREATIF DAN PRODUKTIF DI USIA SENJA
Setelah selesai mengabdikan diri sebagai jurnalis dan abdi Negara,
saya bekerja sebagai konsultan bersama Prof Dr. Charles Himawan, SH, LLM -
Wirawan Wisaksana, SH bergabung dengan “PT.Indulexco
Konsultan Group”, Prof Dr Charles Himawan, SH, LLM dan Wirawan wisaksana,
SH dibidang legal dan saya urusan perpajakan.
Dari sinilah
diawali menjadi hanya group bertiga yaitu menjadi “Charles Himawan Legal Konsultan Group”, sebagai direktur utama dan
penanggung jawab adalah Prof Dr Charles Himawan, SH, LLM (Dekan Fakultas Hukum
Universitas Indonesia), Direktur Wirawan wisaksana, SH (Legal Konsultan),
Direktur H.R Sudrajat Brotokuntjoro (Konsultan Pajak dan Umum).
Pekerjaan
konsultan ini hanya mencakup Jepang dan Belanda yaitu membantu mendirikan
kantor - kantor perwakilan asing antara lain : The Daiei Inc Perwakilan Jakarta
Wisma Nusantara Lt.14, Perijinan kantor perwakilan yang diurus adalah : Ijin
Masuk Imigrasi, permohonan SIUP Departemen Perdagangan, Permohonan Ijin Departemen
Tenaga Kerja dan Kepolisian, mendaftarkan pajak di kantor pajak.
Kepala kantor
perwakilan biasanya hanya dibatasi selama 2 (dua) tahun, kepala perwakilan Daei
pertama Hirono berturut-berturut diganti oleh Maruyam, Yamane, Ban Susunu dan
Akiba.
Pelayanan
konsultan dilakukan sehari-hari sampai bubar, Aici Inc berkantor di Park Royal
Jl. Jend Gatot Subroto, Morilin Asia berkedudukan di Pengadegan Jakarta Selatan
kepala perwakilannya Teraura, Morilin Tokyo berkedudukan di Jl. Teuku Angkasa
Bandung dengan kepala perwakilannya Furukawa, PT. Indo Nakano Gumi berkedudukan
di Jl. Sudirman kepala kantornya Hagia, Takasago berkedudukan di Gedung Mulia
Grogol kepala perwakilannya Suryadi dan Fusida.
Saya diberi tugas
khusus oleh Belanda sebagai Likwidator Tunggal Indonesia yaitu PT. Naromatics
berkedudukan di Cimanggis dengan pimpinan Pieter Indradi Kosim dan Perwakilan
Belanda, likwidasi ini dilakukan terus menerus selama 6 (enam) bulan, jadi
hubungan saya waktu itu sangat dekat sekali.
Demikian alur
sejarah hidup saya setelah selesai mengabdikan diri sebagai abdi Negara dan
Jurnalis.
PENGABDIAN DIRI DI MASYARAKAT DI USIA TUAKU
Pengabdian diri kepada nusa dan bangsa tak kunjung selesai,
selanjutnya saya tetap mengabdikan diri pada masyarakat terutama masyarakat
yang kurang beruntung (mampu) khususnya dalam bidang sosial kemasyarakatan dan
melayani konsultasi berbagai masalah hidup dan terapi pengobatan alternatif.
Dalam pengabdian ini saya lakukan murni sosial tanpa memungut
biaya kecuali pengganti pembelian jamu yang harganya pun cukup wajar dan
terjangkau untuk perawatan selama 1 (satu) bulan, bagi yang tidak mampu jamu
tersebut saya berikan gratis ( Cuma-cuma), pengabdian ini akan saya lakukan
sampai akhir hayat.
Namun saya akui dengan setulus-tulusnya serta ucapan terimakasih
yang sebesar-besarnya serta penghargaan setinggi-tingginya kepada rekan sejawat
ataupun para mantan pasien yang telah tulus ikhlas mebantu dana secara rutin
baik untuk keperluan anak yatim-piatu ataupun subsidi silang untuk bantuan jamu
kepada yang kurang mampu, semoga allah membalas kebaikannya, jazakumullohu khoiron
katsiro.
Untuk melestarikan dan mengenang sejarah asimilasi dan islamisasi
di Indonesia rumah saya yang terletak di Taman Wisma Asri Jl. Salak Raya Blok
A5 No. 42 RT 001/013 Teluk Pucung Bekasi Utara saya jadikan museum.
Untuk itu saya mendirikan “yayasan H.R Sudrajat Brotokuntjoro”
dengan susunan pengurusnya sebagai berikut :
Ketua
yayasan
Moh. Hendra Sunata
Sekretaris
H. Abdul Karim F. Linggo
Bendahara
RR. Sri
Hastuti
RR. Sri
Kuswardjati
RR. Sri
Kuswardani
RR Indriati
Amalia
RR Rizki Eka
Puspita
RR Virana
Hendrastuti
Semoga dengan apa yang telah saya lakukan di sepanjang hayat
menjadikan siar islam di Indonesia demi tetap tegaknya dan keutuhan Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
29 September 2014
Photo di atas adalah perbincangan mantan Komandan Brigif 1 Kodam V Jaya
Kolonel A Latief di era pemerintahan Presiden Soekarno dengan Brigjen TNI (Pur)
Ibrahim Saleh anggota DPR RI fraksi ABRI/TNI-POLRI “tokoh interupsi” yang
dikenal dengan Jendral Bo’ink disampaikan pada saat sidang umum MPR, Kamis 9
Maret 1988 yang menggegerkan suasana rapat paripurna yang baru saja secara
aklamasi meminta Soeharto kembali menjabat Presiden RI periode 1988 – 1992.
Akhirnya Jendral Bo’ink dikeluarkan dari fraksi ABRI, padahal waktu itu ia
dicalonkan sebagai Gubernur Sumatera Selatan menggantikan Sainan
Sagiman.
Pertemuan Kolonel A
Latief (berkaos) dan Bridgen TNI (Pur) Ibrahim Saleh, saya (H.R. Sudrajat) yang
mensponsori bersama komandan CPM jaya Kapten TNI Adisuro, pertemuan keduanya
dilakukan di ruang tengah / ruang tamu penjara (lembaga pemasyarakatan/LAPAS)
Cipinang, Jakarta Timur. Terlihat pertemuan keduanya sangat bersahabat dan
akrab serta wajah yang sumringah. Kolonel Latief bernostalgia serta
menceritakan perjalanan hidupnya yang dijebloskan ke dalam penjara oleh
sahabatnya sendiri Soeharto, ia mangatakan : padahal saya menyadari betul tidak
melakukan apapun, saya ditangkap di Bendungan Hilir tanggal 2 Oktober 1965
Jakarta Pusat. Selanjutnya dijebloskan di sel isolasi berat (dobel pintu) dan
terkunci terus di blok N penjara Salemba selama 10 tahun dari 11 Oktober 1965
s/d 1975. Berdasarkan keputusan sidang mahkamah militer tinggi (Mahmilti) II
Jawa bagian barat tanggal 9 Mei 1978 saya di vonis hukuman mati tapi kemudian
mendapat grasi dari Soeharto hukuman saya diubah dari hukuman mati
menjadi hukuman seumur hidup.
Seingat saya waktu
persidangan itu tidak ada yang membela saya, namun akhirnya saya bersama Sdr.
Yap Thiam Hien, SH membuat pleidoi sebanyak 200 halaman di penjara Cipinang
dimana waktu itu Yap di penjara karena perisiwa “Malari” pada 15 Januari 1974.
Dalam pledoi saya
jelaskan dan tegaskan bahwa dua hari menjelang 1 Oktober 196t, saya berserta
keluarga datang ke rumah keluarga jendral Soeharto di Jalan H. Agus Salim,
Jakarta Pusat. Dengan maksud di samping acara kekeluargaan juga “menanyakan
dengan adanya info dewan jendral sekaligus melaporkan kepada beliau”.
Oleh beliau sendiri justru memberitahukan kepada saya “bahwa sehari
sebelum saya datang ke rumah beliau, ada seorang bekas anak buahnya berasal
dari Yogya bernama Subagyo, memberitahukan tentang adanya info dewan jendral
angkatan darat yang akan mengadakan coup de’tat terhadap kekuasaan pemerintahan
Presiden Soekarno”.
Tanggapan beliau akan
di adakan penyelidikan , ternyata kejadian 30 September 1965 selanjutnya saya
nyatakan dalam pledoi bahwa Pak Harto, Ibu Tien Soeharto, orang tua Ibu Tien
Soeharto Bapak KPH. Soemoharjomo dan Ibu Soemoharjomo sebenarnya apa yang akan
terjadi pada 30 September 1965 berarti beliau beliau turut terlibat G30 S/PKI.
Kemudian Kolonel Latief
menyerahkan satu bendel berkas pledoi kepada saya dengan mengucapkan “Pak
Drajat saya serahkan berkas pledoi yang saya susun bersama Sdr. Yap Thiam Hien
, SH untuk dipelajari dan diberikan anak cucu dan teman teman yang dekat dengan
Pak Drajat”.
Kalau dipikir Let Kol
Untung Komandan Resimen Cakrabirawa, waktu menikah di Gombong, Kebumen, Jawa
Tengah yang menikahkan Pak Harto dan beliau waktu itu juga hadir untuk turut
merayakan pesta perkawinannya itulah yang namanya politik.
Ketika saya mau pamit
pulang dihadapkan Brigjen TNI (pur) Ibrahim Saleh saya katakan “Pak Latief
tolong yang sabar, insya allah nanti anda dibebaskan”, jawab beliau “ apakah
mungkin pak”. Bila Allah menghendaki semua mungkin terjadi.
Ternyata di era
Presiden B.J Habiebie tanggal 25 Maret 1999 beliau mendapat grasi dan
dibebaskan, namun beliau baru benar - benar bebas keluar dari penjara Cipinang
beberapa hari setelah Presiden Gus Dur. Kolonel A Latief meninggal di RS Kodrat
Karawaci Tangerang pada Rabu 6 April 2005, jenazah dimakamkan di TPU Jeruk
Purut Jakarta Selatan. “selamat jalan kawan”.
27 Juli 2014
05 Juni 2014
BUKU : ZAMAN HARAPAN BAGI KETURUNAN TIONGHOA
Drs.H.Yunus Yahya
alumni ekonom Roterdam dan H.R.Soedrajat Brotokuncoro – islamisasi asimilasi
kedua-duanya menyatu dalam rangka membuat buku bersejarah yaitu Zaman Harapan
Bagi Keturunan Tionghoa
Assalamu’alaikum
wr.wb.
ZAMAN
HARAPAN BAGI KETURUNAN TIONGHOA, demikian judul sambutan Buya Hamka dalam brosur
“Asimilasi dan Islam” pada tanggal 15 Juni 1981, sekitar 5 minggu sebelum
beliau wafat (24 Juli). Brosur tersebut memuat karangan-karangan dalam media
massa antara tahun 1979-1981 mengenai :
- Sebab musabab seorang masuk Islam
- Langkah-langkah yang diharapkan setelah seorang keturunan Tionghoa masuk
islam
- Identitas, watak dan kepribadiannya selanjutnya
- Aneka pandangan dan penilaian masyarakat luas
- Aspek-aspek yang bersifat “human interest”.
Kini,
dirasakan bahwa perhatian terhadap hal diatas meluas. Dan buku semacam brosur
termasuk nampaknya perlu diterbitkan lagi. Sebab selama 5 tahun terakhir
1979-1984 dahwah Islamiyah dikalangan keturunan Tionghoa ditanah air kita
prospeknya makin cerah.
Dalam
sambutan diatas, Buya dengan gayanya yang khas antara lain “berkeyakinan,
bahwasanya saudara-saudara itu memeluk agama Islam adalah sejarah baru dalam
Republik kita Indonesia”. Dan tercetuskanlah ramalan dan visi beliau
bahwa fajar telah menyingsing dan kita menghadapi ZAMAN HARAPAN BARU BAGI
KETURUNAN TIONGHOA di Indonesia. Satu dan lain didasarkan pula atas Statement
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat pada tanggal 10 Desember 1980 yang
kalimat-kalimat akhirnya sebagai berikut :
“Mengenai
sikap umat Islam terhadap asimilasi atau pembauran, hal itu bukanlah sesuatu
yang baru. Islam tidak membeda-bedakan asal usul, ras maupun keturunan
seseorang. Dan kehidupan sehari-hari menunjukkan, bahwa orang-orang
Indonesia keturunan Tionghoa yang memeluk agama Islam diterima oleh rakyat
dengan baik sehingga terbaur dngan sendirinya secara tuntas.”
Buku ini
hanya kompilasi atau rekaman kejadian dan tinjauan yang pernah di liput oleh
media massa dalam kurun waktu 5 tahun 1979-1984. Semacam seleksi “bunga rampai”
kronologis tahun demi tahun yang sekiranya bermanfaat bagi mereka yang tertarik
pada hal ihwal dan perkembangan “ sejarah baru dalam Republik kita” Indonesia
ini.
Kemudian,
kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu bagi
terlaksananya penerbitan ini. Khususnya kepada kawan seperjuangan H.Sudradjat
Brotokuncoro yang telah mencurahkan begitu banyak waktu dan pemikirannya.
AkhirulZkata, bila dalam penyuntingan ini ada hal-hal yang kurang berkenan
dihati sidang pembaca yang terhormat, kami mohon dimaafkan seikhlas-ikhlasnya.
Jakarta, 1 Maret 1984
H.Junus Jahja
Langganan:
Postingan (Atom)
