05 Juni 2014

BERBAUR TUNTAS LEWAT ISLAM



BERBAUR TUNTAS LEWAT ISLAM
Oleh : Ridwan Saidi


Saya mengenal Pak Junus Jahja sekitar tahun 1972-1974, ketika itu saya mejabat sebagai Ketua IPB HMI pada periode kepengurusan Akbar. Pertemuan dengan Pak Junus adalah pada suatu kesempatan dimana Badan Pembina Kesatuan Bangsa, DKI Jakarta mengadakan pertemuan di Gedung  DKI. Sebelumnya nama Junus Jahja telah saya dengar dan ketahui lewat brosur-brosur tentang kesatuan bangsa.

Pada pertemuan di gedung DKI itu Pak Junus ditemani oleh seorang yang bertubuh kurus dan kecil, senyumnya hampir selebar wajahnya, dialah Sudrajat Brotokuncoro. Selama lebih dari satu dasawarsa Pak Junus dan Drajat, begitu biasa dia dipanggil, sangat akrab laksana  “kuwali dan kekep”, dimana ada Pak Junus disitu ada Drajat. Sayapun, setelah pertemuan di DKI, menjadi akrab dengan dua sahabat tersebut. Dimata saya, Junus Jahja adalah orang yang  tidak merasa letih berbicara tentang pembauran bangsa. Perhatiannya tentang proses pembauran non pri ke dalam totalitas masyarakat Indonesia melebihi urusan pribadinya sendiri. Selama Windu I, delapan tahun pertama, berkenan dengan Junus jahja saya tidak pernah berbicara tentang kehidupan pribadinya karena Pak Junus sendiri tidak pernah membukakan pintu untuk itu. Saya tidak tahu apakah PakJunus itu bujangan tua atau duda, juga saya tidak tahu apa sesungguhnya agama Pak Junus, tapi jelas ketika itu ia belum memeluk Islam.

Setiap kali kami bertemu selalu yang menjadi pembahasan adalah bagaimana secara kongkrit menyusun dan melaksanakan program yang menunjang proses pembauran bangsa. Pak Junus jarang sekali berbicara tentang penyebab kurang mantabnya pembauran bangsa. Ia lebih cenderung berbicara tentang solusi teknisnya.

Kami sering sekali berjalan berdua ke Tanjung Priok menemui kartunis Jhony Hidayat AR untuk membuat bersama komik pembauran. Saya yang merancang naskah, Pak Junus memberi arahan, Jhony yang meng-komik-kannya. Saya sudah lupa entah berapa edisi komik pembauran yang telah berhasil kami pubilkasikan. Lewat artikel ini saya ingin mengimbau kepada siapa saja yang masih menyimpan naskah komik tersebut untu secara ikhlas dapat meyerahkannya kepada Pak Junus untuk dokumentasi. Saya dan Pak Junus sudah tidak memiliki komik yang bersejarah itu.

Terbentuknya Bakom-PKB

Kesan dari luar Pak Junus adalah seorang praktisi pembauran, bahkan dapat juga dikatakan sebagai pekerja pembauran. Hal-hal yang teoritik tentang pembauran, maka Pak Junus menjadi pendengar budiman. Tetapi semangatnya berkobar-kobar bila berbicara, atau tepatnya, merancang desain project pelaksanaan pembauran.

Pada suatu hari ditahun 1979 Pak Juns berkunjung ke rumah saya di Taman Sari IC, Sawah Besar. Tangannya memegang sehelai naskah, entah apa isinya. Begitu saya silahkan duduk ia langsung meyodorkan naskah tersebut, “Bung Ridwan baca ini naskah, kalau oke tulung supaya diteken”. Rupanya naskah itu berisi piagam berdirinya Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa, kemudian hari disingkat menjadi Bakom-PKB. Saya lihat beberapa tokoh telah menandatangani naskah tersebut. Saya sadar belaka bahwa Pak Junus berada dibalik rencana tersebut.

“Jadi, badan ini mau kita aktifkan?” saya bertanya.

“Ia dong, habis BPKB DKI terlalu lokal, kita ingin badan yang menusantara,” kata Pak Junus.

Memang Bakom bergerak cepat. Sebuah pertemuan digelar untuk melengkapi susunan pengurus. Program  kerja juga dibuat, antara lain ceramah-ceramah umum ke massa grass root, meminjam istilah Pak Junus.

Pada awal tahun tahun 1980-an kesibukan saya selaku anggota DPR RI makin meningkat, jarang-jarang sudah saya bertemu dengan Pak Junus, sayapun jarang membuat kontak dengan Drajat, sehingga saya tidak tahu kabar apa-apa mengenai Pak Junus. Sehingga pada suatu hari saya terkejut berat membaca berita bahwa tokoh pembauran Drs.Junus Jahja memeluk agama islam, kalau saya tidak salah ingat peristiwa itu disaksikan oleh Buya Hamka. Saya mencoba mengontak Pak Junus dan Drajat. Drajat menceritakan panjang lebar tentang masuk islamnya Pak Junus.

Selama satu windu saya bergaul erat dengan Pak Junus sama sekali tidak “engah”, atau “mendusin”, kalau Pak Junus itu tertarik pada Islam. Seperti saya kemukakan tadi bahwa selama dalam pergaulan dengan Pak Junus saya tidak dapat celah untuk berbicara tentang agama yang dipeluknya. Juga saya tidak ingin menanyakan soal yang peka ini. Ternyata selama itu Pak Junus sedang meyimak Islam, ia sedang mengobseeervasi Islam.
Saya mendapat kesan bahwa Pak Junus masuk Islam adalah hidayah Allah S.W.T., tetapi tampaknya Pak Junus juga merenung bahwa hanya Islamlah yang dapat mempercepat proses pembauran WNI keturunan dengan mayoritas masyarakat Indonesia yang beragama Islam. “Apa lagi yang mau dipersoalkan kalau mereka sudah beragama Islam,” begitu Pak Junus biasa berkata.

Jalan Lautze

Yang saya ikuti “markass” gerakan pembauran berpindah beberapa kali, pertama di daerah Boplo, Gondangdia, lalu ke Mangga Besar, dan terakhir ke Jalan Lautze, Jakarta Pusat. Pak Junus sering sekali ke Jalan Lautze, hanya saja Drajat sudah tidak kelihatan lagi. Saya mendengar kabar ia telah menjadi orang bisnis kelas kakap. Yang membantu kegiatan Pak Junus di “markas” Lautze adalah Saudari Ana. Dan Mevrouw Junus juga giat membantu aktifitas di Lautze. Dalam periode Lautze saya sering bepergian dengan Pak Junus ke Muara Karang untuk membeli buku-buku tua. Pak Junus tampaknya bukan sekedar praktisi, dia juga suka berdiskusi tentang rupa-rupa topik. Saya kiradari dulu juga dia mempunyai hasrat yang kuat untuk berdiskusi secara intelektual tentang pelbagai tema bahasan. Namun konsentrasi dia selama itu adalah mencari dan menemukan format gerakan pembauran di Indonesia yang setepat-tepatnyanya. Setelah format itu ia temukan, yaitu berbaur tuntas lewat Islam, maka Pak Junus telah melewati periode ekperimen. Ia kini memasuki periode pemantapan pola kerja. Untuk itu ia memerlukan sarana dan orang-orang yang dipersiapkan sebagai kader.

Suatu hari Pak Junus memberi kabar kepada saya bahwa “markas” Lautze akan menjadi mesjid. Saya kaget bukan kepalang, tapi itu suatu fakta. Maka shalat Jumat pertama pun dipersiapkan, dan saya diminta untuk menjadi khatib yang pertama. Sementara itu pada shalat  Jumat pertama itu saya melihat “kader” Pak Junus sudah mulai muncul seperti Ali Karim, Linggo, dan Syarif.

Masjid Lautze diperluas, kegiatan makin beragam, kader juga makin banyak. Saya makin jarang datang ke Lautze karena lalu lintas di Jakarta makin macet, kadang-kadang timbul rasa enggan bepergian jauh dari rumah. Tetapi kontak per tilpon dengan Pak Junus masih tetap berlangsung. Saya bergembira bahwa pada usia Pak Junus yang ke-70 apa yang disemainya sejak awal tahun 1950an kini mulai berputik dan berbuah. Semoga Allah memberi usia yang panjang kepadanya, serta keberkahan senantiasa menyertainya.



Jakarta, 23 Ramadhan 1417H



10 Maret 2014

SEKILAS KISAH DARI SEBUAH PERJALAN HIDUP




Dalam rangka cita-cita asimilasi melalui islamisasi saya bersama teman-teman ketika itu mendirikan Kelompok Tujuh. Dari Kelompok Tujuh inilah diawali gerakan asimilasi dan islamisasi. Ketika itu enam puluhan lebih keturunan cina masuk islam dari Yayasan Kelompok Tujuh inilah berkembang menjadi Yayasan Muslim Baru, kemudian berkembang lagi menjadi Yayasan Ukhuwah Islamiah. Disini bola dakwah mulai berkembang pesat berdampingan dengan cita-cita badan komunikasi penghayatan kesatuan bangsa dimana saya sebagai aktifis Yayasan Ukhuwah Islamiah sekaligus menjadi kepala kantor Bakom PKB pusat dan Bakom PKB DKI yang berkedudukan di Jl. Srikaya No.7 Pasar Boplo Jakarta Pusat.

Dari Yayasan inilah kemudian menciptakan Yayasan Haji Abdul Karim Oei karena Pak Karim Ceng Tyenghien telah wafat. Pak Karim inilah tokoh sesepuh PITI (Persatuan Islam Tiong Hua Indonesia) dan sesepuh Muhammadiyah dari Bengkulu, dikarenakan wafat nama beliau diabadikan menjadi Yayasan Haji Karim Oei.

Sebagai kepala yayasan dipegang oleh putra Bapak Karim Oei bernama Haji Muhammad Ali Karim. Yayasan inilah berkembang yang sekarang ini memiliki masjid Lautze Pasar Baru. Selamat jalan dan selamat beristirahat kepada bapak-bapak dan para sahabat yang telah mendahului kami.  

Dibidang pegajian, Yayasan Ukhuwah Islamiah yang diwakili oleh Hambas Wartawan, Sudrajat Brotokuncoro dari Bakom PKB, Drs.Kozin Arif dari IAIN bersama-sama dengan PTDI (Pendidikan Tinggi Dahwah Islamiah) yang diwakili oleh Jenderal Sudirman (ayah dari Basofi Sudirman), Laksamana Angkatan Laut Adang Safaat, Laksamana H.M. Sujono dari Auri dan Mayor Jenderal Suhadi dari Kepolisian bersama-sama dengan Ukhuwah Islamiah mendirikan Badan Pengajian Tafsir Quran (BPTQ) dikediaman Almarhum Jenderal Sarbini di Jl.Imam Bonjol No.48.

Saya diminta oleh sesepuh PTDI, untuk menghadap Menteri Agama Jenderal Alam Syah Ratu Perwira Negara untuk permohonan bantuan dana agar terlaksananya pengajian BPTQ di Imam Bonjol. BPTQ menghadirkan sesepuh Kiyai dari Pekalongan yaitu Kiyai Haji Gofar Ismail, yaitu ayah dari budayawan Taufik Ismail. Dari BPTQ Imam Bonjol inilah berkembang menjadi BPTQ di Lemhamnas yang dikoordinir oleh Laksamana H.M. Sujono.

Dibidang Gerakan Siluman dan Gerakan Sunyi Senyap saya berangkat dari pengalaman KOTI (Komando Tertinggi) dipimpin oleh Brigjen Sucipto,SH kemudian berlanjut ke BPI (Badan Pusat Inteligen) yang dipimpin oleh Brigjen Sutarto. Disinilah operasi Sunyi Senyap berkembang meluas, kemudian membantu Letnan Kolonel Priyo Pranoto, mantan Wadan (Wakil Komandan) RPKAD (Reder Pasukan Angkatan Darat) yang dipimpin oleh Kolonel Sarwo Edi Wibowo.

Pak Priyo pada waktu itu aktif di Bakin (Badan Intelijen Negara) yang kemudian Pak Priyo ini sebagai Paman saya dari istri saya. Dari Bakin inilah saya bisa berhubungan dengan Mayor Jenderal Rujito Waka Bakin, berhubungan dengan Letnan Jenderal Ali Murtopo sampai kepada ikut Opsis (Operasi Khusus) yang dipimpin oleh Letnan Jenderal Ali Murtopo. Kemudian saya sering diminta bantuan oleh Mayor Jenderal Sunarso ketua BKMC Bakin (Badan Koordinasi Masalah Cina di Bakin) yang berhubungan erat dengan tugas saya dimasa pembauran di Bakom PKB Pusat. Selamat jalan dan selamat istirahat kepada sahabat-sahabat yang telah mendahului kami.

Dibidang pekerjaan, saya bekerja di PT. Mas Ayu Trading Industrial kemudian saya bekerja bergabung dengan Konsultan PT. Indulexco. Dikonsultan inilah saya menemukan tokoh-tokoh hukum yang bisa membina saya, yaitu Prof.DR.Charles Himawan,SH,LLM, yaitu tokoh dari Dekan Fakultas Hukum UI dan Wirawan Wisaksana,SH.

Dengan dua tokoh hukum inilah saya mampu membuat kantor perwakilah asing di Jakarta diantaranya adalah Perwakilan Asing The Daie Inc perwakilan dari Tokyo, MURIRIN ASIA, MURIRIN SINGAPORE, AIC TOKYO, perpanjangan izin dari PT. Takasago Indonesia. Oleh Prof.DR.Charles Himawan bersama dengan owner PT.Quis Indonesia saya diminta untuk meliquidasi PT.Narumatic Indonesia PMA. Pekerjaan liquidasi ini berjalan mulus selama enam bulan.