16 Januari 2014
15 Januari 2014
PROF. DR.HAMKA : ISTILAH PRIBUMI DAN NON PRIBUMI HANYA ISTILAH YANG DIBUAT ORANG BERDASARKAN POLITIS
Oleh :
Dra.Eliza H.D
Penulis sengaja mendatangi salah seorang tokoh agama yang dikagumi oleh
banyak pihak ,baik dari golongan Islam maupun yang bukan Islam.Ia sangat
disegani,karena amal perbuatannya yang banyak memberikan teladan pada setiap
Insan. Begitu ramah dan menonjol sifat kebapakannya yang penuh dengan sinar
welas asih sewaktu menyambut kedatangan penulis. Dengan ramah dan suara yang
penuh mengandung charisma tersendiri berkatalah Buya Hamka :
Mengenai apa yang ditanyakan pada saya tentang kesatuan dan persatuan
bangsa, untuk ini kita harus lebih dahulu memahami makna yang terdapat dalam
lambang Negara kita “ Bhineka Tunggal Ika " Ini kan sudah
menunjukkan kesatuan meskipun ia sendiri dari berbagai suku bangsa.
Hal ini sesungguhnya terjadi karena kuatnya idealisme dari pemuda
pemuda dulu yang tergabung dalam Jong Java,Jong Ambon,Jong Sumatera dan lain
lain yang bergabung menjadi kekuatan persatuan bangsa Indonesia itu menurut
saya ialah dengan kuatnya pula rasa kesukuan,sebab dengan tumbuhnya bangsa
Indonesia suku suku bangsa tidaklah sirna ,malah selalu dianjurkan agar bahasa
daerah dipelihara baik baik . Seperti contohnya saya sendiri adalah bangsa
Indonesia namun berasal dari Minangkabau.
Kita harus mengingat bahwa kekayaan Indonesia juga harus dipandang dari
segi kebudayaan yang berada di daerah itu. Setelah 35 tahun kita merdeka
,kekayaan kebudayaan daerah tidak boleh sirna malahan harus bertambah
kesuburannya.
Dan mengenai istilah “Pribumi“ dan “non pribumi"
bagi saya sendiri tidak ada, karena sesuai dengan ajaran agama islam sendiri
,bahwa kita telah menjadi bangsa dimana kita tinggal, bila kita telah beriman
dan beramal saleh ditempat tersebut. Istilah ini hanyalah istilah yang dibuat
orang berdasarkan perkembangan masyarakat yang ada dan hanya bersifat politis.
Jadi dalam hal ini janganlah kita berpandangan sempit, untuk itu saya
anjurkan agar kita mau menerima mereka dengan jiwa yang besar sebagai bangsa
kita sendiri. Contohnya saya sendiri, saya sebagai orang Islam akan menerima
segala orang yang berniat baik dengan segala senang hati dan sebagai bangsa
Indonesia tentu saja kita harus mengingat akan apa yang terpatri dalam falsafah
Negara kita. “Pancasila” dimana pada setiap silanya itu menerima juga setiap
orang yang meyakini akan falsafah Negara kita.
Di sini saya tekankan sekali lagi bahwa istilah pribumi dan non pribumi
hanyalah bersifat politis saja. Namun apabila yang disebutkan orang dengan
istilah “non pribumi" yang dengan keyakinannya yang rational terhadap
dirinya sendiri, bahwa dia sudah dilahirkan di Indonesia, juga akan mati disini
dan bermata pencarian disini ,maka dengan keyakinan yang demikian ia bisa
menunjukkan bahwa dirinya telah berbakti pada tanah air Indonesia. Gerakan
gerakan ini sesungguhnya menurut sejarah yang ada sudah di mulai oleh orang
orang yang dinamakan “non pribumi“, sejak 70 tahun yang lampau seperti kita
kenal dengan nama “ Gerakan Orang Tionghoa , Gerakan Orang Arab yang lebih
dikenal lagi dengan istilah P.A.I “ , namun tampaknya yang lebih berhasil
adalah orang Arab P.A.I ini dikepalai oleh seorang idealis yang bernama A.R
Baswedan di Solo. Di sini menyatakan keyakinannya di kalangan orang Arab bahwa
kita meskipun berasal dari keturunan Arab, tapi adalah bangsa Indonesia,karena
kita hidup dan akan mati serta berpencarian di Indonesia,maka itu kita harus
beramal bakti pada Negara Indonesia.Hal ini terbukti setelah kita merdeka dimana
golongan ini diminta untuk mendaftarkan diri menjadi warga Negara Indonesia,
mereka tak mau dan menyatakan dengan penuh keyakinan bahwa mereka adalah bangsa
Indonesia. Disini jelas kelihatan adanya suatu keyakinan dalam diri yang
telah ditanamkan oleh Baswedan yang pernah juga menjadi salah seorang menteri
disalah satu kabinet dalam pemerintahan kita. Juga Ex.Duta Besar “Asha Bafagih”
( yang menjadi duta besar di Srilangka dan Aljazair ) berasal dari keturunan
Arab. Yang tampaknya agak lamban adalah dikalangan orang Tionghoa, mungkin
jumlah mereka yang lebih besar dan kedua mungkin karena faktor agama. Dalam
agama Islam dikatakan “asal kita hidup didunia ini dimanapun kita tinggal, kita
harus beramal saleh,” diantaranya ini telah dilakukan oleh orang orang yang
telah saya sebutkan, juga termasuk nama Hamid Algadri (orangnya masih hidup)
dan menjadi anggota Partai Sosialis.
Bukankah dari Pemerintah kita sendiri sudah ada anjuran agar dari
golongan keturunan Tionghoa mengganti nama mereka menjadi misalnya Rudy
Hartono, hal ini tak lain supaya mereka menjadi bangsa Indonesia. Dan bahkan
sudah sedemikian jauhnya gerakan yang pernah dilakukan oleh Gerakan Orang
Tionghoa ini dengan anjuran asimilasi. Penganjur peranakan Tionghoa tentang
asimilasi yang telah menukar namanya itu antara lain Junus Jahja, Junus Jahja
setelah mengadakan gerakan asimilasi mereka belum yakin akan keberhasilannya,
kalau tidak dilandasi dengan jiwa sendiri untuk menjadi orang Indonesia dan
untuk ini bahkan Junus Jahja setelah mengadakan gerakan asimilasi mereka
belum yakin akan keberhasilannya, kalau tidak dilandasi dengan jiwa sendiri
untuk menjadi orang Indonesia dan untuk ini bahkan Junus Jahja selain melakukan
asimilasi, ia sendiri kemudian menjadi seorang pemeluk agama Islam. Dialah yang
menjadi pemimpin melakukan gerakan gerakan itu. Ada contoh lain lagi yakni
seorang keturunan Tionghoaselain melakukan asimilasi, ia sendiri kemudian
menjadi seorang pemeluk agama Islam. Dialah yang menjadi pemimpin melakukan
gerakan gerakan itu. Ada contoh lain lagi yakni seorang keturunan Tionghoa yang
bernama “Oei Tjeng Hien” yang bernama “Oei Tjeng Hien” namun dalam tahun
1929 ia masuk Islam, itu terjadi 51 tahun yang lalu di Bengkulu.
Kemudian setelah Bung Karno Almarhum dipindahkan dari Ende ke Bengkulu,
ia bersahabat baik dengan Bung Karno serta dia merasa dirinya sendiri
bangsa Indonesia dan ia melakukan amal baktinya untuk bangsa Indonesia.
Sekarang ini ia masih hidup dan setelah gerakan asimilasi dan tidak memakai
nama aslinya lagi, tapi sekarang terus mempergunakan nama “Haji Abdul
Karim”.
Jadi orang orang semacam itu dapat dicontoh oleh yang lain dimana jelas
sekali dengan kesungguhan yang ikhlas ia mau menyatukan diri dengan bangsa
Indonesia. Contoh yang lain lagi : Mas Agung dengan “Gunung Agungnya”, sekarang
ia juga menjadi Islam. Kita harus mau meniru orang orang seperti itu dan jangan
ragu ragu, sebab tanah air Indonesia amat luas, alamnya terbuka untuk mengisi
pengorbanan dan keikhlasan daripada penduduknya, justru pengorbanan itu terbuka
untuk semua golongan.
Jadi jangan kita merasa diri kita kurang dari orang lain, juga
jangan merasa diri kita lebih, sebab Indonesia bukan Negara jajahan lagi, tapi
kita semuanya sudah merdeka.
Ingatlah, kalau kita tidak mengadakan persatuan dengan baik, dimana tak
terdapat ke insyafan dan masih ragu ragu dalam roda kemerdekaan Indonesia yang
berputar terus, kita jangan hanya berdiri di pinggir jalan karena akhirnya yang
ragu pasti akan terlindas oleh roda revolusi sendiri. Jadi jelaslah bahwa bagi
yang disebutkan orang dengan istilah “non pribumi” janganlah ragu ragu
untuk menunjukkan iman dan mau beramal saleh bagi bangsa dan Negara Indonesia,
dan bagi yang menanamkan dirinya “pribumi” harus mau berlapang dada menerima
kehadiran mereka, janganlah kita berjiwa sempit, karena orang orang yang telah
beriman dan beramal saleh ini adalah juga saudaramu dan bangsamu juga. Ini
sesuai dengan lambang “Bhineka Tunggal Ika” serta falsafah Negara kita
“Pacasila”.
Sampai disana Buya Hamka mengakhiri ulasannya.
( Varia Nada No. 444 Awal April
1980 )
ZAMAN HARAPAN BAGI KETURUNAN TIONGHOA
Oleh : Buya Hamka
Kita bersyukur kepada Allah s.w.t
atas kemajuan dan kepesaan yang dicapai yang dicapai dalam perkembangan agama
Islam di kalangan saudara-saudara kita keturunan Tionghoa. Pada dua tahun yang
alah akhir-akhir ini kegiatan penyebaran agama Islam di kalangan
saudara-saudara kita keturunan Tionghoa pesat sekali. Itu adalah suatu nikmat
dari Allah s.w.t membukakan hati dari saudara-saudara kita itu. “ Minadh
dhulumaati ilan nur” : daripada gelap gulita tak tentu arah kepada Nur yaitu
Cahaya , cahaya iman , cahaya petunjuk yang diberikan oleh Tuhan.
Saya sendiri merasa pula bersyukur sepuluh
kali oleh karena terlibat dalam pekerjaan yang baik itu. Dua tiga kali setelah
menghadiri pertemuan-pertemuan, pernyataan memeluk agama Islam dari pada
berpuluh orang saudara-saudara keturunan Tionghoa , saya mengatakan terus
terang bahwa ini adalah keluar dari gelap gulita keterang benderang karena
saudara-saudara yang masuk dan memeluk Islam itu adalah dengan penuh kesadaran
dan penuh pengertian. Mereka boleh dikatakan golongan yang pada umumnya berada,
jadi orang tidak dapat lagi menggambarkan bahwa saudara-saudara itu memeluk
agama Islam sebagaimana yang digambarkan
orang berpuluh tahun yang lalu yaitu orang orang mualaf, katanya. Kalau
disebut orang mualaf, maka asosiasi pikiran bertemulah dengan orang orang yang
putus asa dalam kehidupan karena ekonomi yang sukar, lalu memeluk agama Islam ,
dimana-mana kelihatan kelemahan orang itu lalu berjalan kesana kemari diberi
orang bantuan, kadang kadang mereka itu dipencilkan pula dari keluarganya
sendiri. Disebutkan bahwa orang itu bukan masuk Islam tetapi masuk Melayu,
katanya pula. Nah ini sama sekali sekarang tidak tergambar lagi. Dengan
masuknya orang orang seperti saudara Drs.H.Junus Jahja, Drs.Moh.Budyatna MA,
saudara Drs.Akhmad Setiawan Abadi MA, dan lain lain , khusus kedua saudara
Mohammad Ali dan Mohammad Jusuf dan lain lain lagi. Kelihatan bagaimana
gembiranya mereka didalam keyakinan yang baru itu. Kita semua tahu, bahwa
saudara Drs.H.Junus Jahja yang telah memeluk agama Islam sejak dua tahun lebih nsedikit
yang telah lalu, sebelum beliau itu memeluk agama Islam, beliau terkenal
sebagai pemuka di gerakan Asimilasi. Gerakan menimbulkan rasa kebangsaan
Indonesia dalam kalangan keturunan Tionghoa. Setelah beliau menggerakkan
pekerjaan itu beberapa tahun lamanya, beliau sampai pada suatu kesimpulan ,
Asimilasi itu hendaklah lahir bathin. Asimilasi itu hendaklah sesuai dengan
keyakinan hidup, antara padangan hidup dengan penukaran nama. Jangan Cuma
penukaran nama, tetapi tidak dihayati asimilasi itu. Sebab itu beliau mempunyai
keyakinan : barulah sempurna Asimilasi itu apabila telah disertai oleh
Islamisasi. Maka setelah beliau menggerakkan Asimilasi , beliau ikut dengan
Islamisasi.
Saya melihat pada hidup beliau
sendiri : kegiatan, keikhlasan, kebesaran hati dan cahaya terang buat zaman
muka, zaman harapan: itupun dirasai
oleh orang lain! Akhirnya bagi beliau sendiri pun dapat kehormatan ditunjuk
menjadi salah seorang anggota Pengurus Harian dari Majelis Ulama Indonesia. Ini
satu bukti bahwa kehidupan beliau beliau itu dan masuknya beliau beliau itu
kedalam agama Islam, betul betul timbul dari kesadaran. Dan orang Islam yang
menyambutnya, saudara saudaranya kaum musliminpun menyambut mereka dengan tidak
ada keraguan lagi. Sebab itu saya berkeyakinan bahwasannya saudara saudara itu
memeluk agama Islam adalah sejarah baru
dalam Republik kita Indonesia ini .
Saudara saudara itu pernah
mengatakan, saudara Drs.H.Junus Jahja pernah mengatakan : “Saya sebagai muslim
dan saya sebagai warganegara Indonesia tidak lagi dikaji asli tidak aslinya.”
Dan dalam agama Islam tidak ada kaji asli tidak aslinya.: “Inna akromakum
indallaahi atqaakum.” Orang yang paling mulia pada sisi Allah ialah orang yang
lebih taqwa kepadaNya. Dan taqwa itu terletak dihatinya. Banyak pengalaman saya
dalam pergaulan dengan saudara saudara Tionghoa –muslim ini. Dalam beberapa
kali pertemuan saya dengan mereka membuka pertemuan dengan pembacaan Al Qur’an.
Bacaan Al Qur’an itu fasih, bagus, sehingga kita tidak menyangka bahwa orang
ini baru saja memeluk agama Islam. Saya juga melihat gadis gadis yang
menyatakan diri memeluk agama Islam. Lalu menukar namanya dengan Siti Aisyah,
dengan Siti Fatimah, dan lain lain.
Kelihatan juga seri pada mata
mereka itu keikhlasan hatinya. Saudara saudara Tionghoa yang memeluk agama
Islam ini adalah menjadi pelopor daripada zaman baru yang akan kita tempuh
bersama menegakkan Negara kita ini, dan membela agama kita ini. Pilihan saudara
saudara itu adalah pilihan yang tepat. Mereka mempelajari terus, memperdalam
terus, menyelidiki terus kemuliaan dan ketinggian daripada agama yang mereka
peluk ini. Didalam satu pertemuan, ananda Mohammad Jusuf memohon kepada saya
supaya diizinkan memandangnya sebagai anak saya, ia menuliskan Mohammad Jusuf
Hamka dia punya nama. Didalam satu pidato dia berjanji akan menyelidiki agama
ini lebih mendalam. Nampak pada diri mereka, pada diri Mohammad Jusuf, pada
diri yang lain lain dibawah pimpinan Drs.H.Junus Jahja kemajuan umat itu.
Menilik pada semua ini setelah
saya berusia 73 tahun sekarang ini bersyukur saya sekali lagi kepada Allah
s.w.t . sebab sejak dari 50 tahun yang lalu saya sudah bersahabat karib dengan
beberapa orang saudara kalangan Tionghoa yang memeluk agama Islam. Tentu saja
saya tidak akan melupakan sahabat karib saya saudara H.Abdul Karim Oei yang
dulu terkenal dengan nama Oei Tjeng Hien. Pernah menjadi pimpinan Muhammadiyah
daerah Bengkulu, yang Alhamdullilah, sekarang masih hidup, mudah mudahan Allah
memanjangkan usianya. Saya melihat disitu keikhlasan hati, ketekunan beragama.
Dan ketika saya di Makassar pada tahun 1932 bertemu pula dengan saudara saudara
bangsa keturunan Tionghoa P.I.T namanya
Persatuan Islam Tionghoa. Dan ditempat lain bertemu lagi yang lain. Samasekali
menunjukkan keikhlasan. Maka saya mengucapkan Selamat atas usaha ini, moga-moga
Allah member Taufiq dan Hidayahnya. Sehingga akan tercapai bagaimana
diceritakan oleh orang tua di Makassar Haji Abdullah ketika saya datang kesana
tahun 1931 bahwa disana dulu pernah ada seorang ulama , ULAMA , betul betul
Ulama, dari keturunan Tionghoa. Demikianlah juga hendaknya dalam kalangan
saudaraku yang tercinta keturunan Tionghoa yang ada di Indonesia ini sekarang.
Insya Allah, sepuluh tahun lagi
timbul ulama ulama baru yang turut mempetuahkan agama dalam kalangan keturunan
Tionghoa. Itulah sambutan saya, moga moga Allah s.w.t memberikan Taufiq dan
HidayahNya.
Jakarta
, 12 Sya’ban 1401 H / 15 Juni 1981
DR. Haji
Abdulmanik Karim Amrullah
( HAMKA )
(
Brosur Asimilasi dan Islam )
ISLAMISASI – ASIMILASI
Ini peristiwa “luar biasa”, kata
Ny. Haji Qomariah. Wanita ini, 35 tahun, yang dulu dikenal dengan nama The Giok
Sin, berbicara di depan peringatan Isra Mi’raj di gedung bekas Sin Ming Hui
Jakarta pekan lalu.
Yang diucapkan tak meleset, meskipun
peringatan keagamaan bukan baru kali ini diselanggarkan oleh PITI (dikenal
sebagai organisasi “Tionghoa Islam”) tapi malam itu luar biasa yang hadir.
Undangan diharapkan 400 orang datang, yang muncul sampai 1000. Mungkin karena
malam itu PITI bekerja sama dengan Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa
(BAKOM PKB) – yang bergerak menjalin hubungan antara kalangan “pribumi” dengan
“non pribumi”.
Bukan kebetulan bila di sana
hadir K. Sindhunata, Ketua BAKOM PKB. Walaupun ia seorang Nasrani, namun lebih
dari itu cukup simbolis bahwa di tengah-tengah acara itu Nampak seorang tokoh
asimilasi terkenal, Junus Jahja, Sarjana ekonomi lulusan Rotterdam.
APA SUNGGUH?
Di tahun 1952 Junus Jahja,
sewaktu masih di Negeri Belanda mulai mempraktekan cita-cita asimilasinya
secara langsung : ia seorang penasihat Presidium Chung Hwa Hui (CHH),
menganjurkan agar organisasi keturunan Tionghoa yang terpisah itu dibubarkan.
Para anggotanya ia anjurkan masuk Persatuan Pelajar Indonesia. Ia sendiri sejak
berdirinya PPI setahun sebelumnya sudah menjadi anggota, bersama Soemantri
Brodjonegoro almarhum. “saya sepenuhnya diterima dan diperlakukan 100% sebagai
sesama orang Indonesia” kata Junus, yang waktu itu bernama Lauw Chuan Tho
mengenang masa muda.
Keyakinan demikian pula yang
mendorong Chuan Tho 17 tahun yang lalu sudah mengganti namanya menjadi Junus
Jahja. “saya tidak tahu kenapa saya pilih nama Islam itu”, tutur Junus kini.
Apa pun sebabnya, Junus Jahja tak berhenti menambah data baru dalam riwayat
hidupnya. Dua pekan lalu, dalam usia 52 tahun ia masuk Islam di Mesjid
Al-Azhar- Jakarta.
Dari seorang Junus Jahja, yang
sering melompat jauh dalam gagasan asimilasinya, langkah seperti itu tak
terlalu mengejutkan. Tapi tak urung masuk Islamnya seorang terpelajar seperti
dia yang semula beragama Protestan “tapi tak aktif” – menimbulkan keraguan.
Karena pengaruh zaman Belanda dulu, Islam di kalangan “non pri” yang
berpendidikan Barat dianggap agama “kelas tiga”. Untuk pembauran di kalangan
elite masa itu jalan nya ialah dengan masuk agama Katolik atau Protestan. Maka
menurut cerita Junus, kini dari beberapa teman intelektualnya ada semacam
sindiran kepadanya : apa dia sungguh-sungguh? Bahkan ada pertanyaan : adakah ia
masuk Islam untuk asimilasi belaka?
Diterima jadi tokok berperhatian
kepada Islam antara lain melalui Muljoto – anak almarhum Muljadi Djojomartono,
Menteri sosial di zaman pemerintahan Bung Karno yang tokoh Muhammadiyah.
Muljoto adalah teman sekolahnya yang erat sejak di negeri Belanda. Kini ia jadi
Presiden Direktur Bank Ekspor-Impor, sedang Junus bekerja di sebuah bank
Jerman.
Meskipun Junus menyatakan bahwa
orang “ jangan masuk Islam hanya karena untuk Asimilasi “ , tapi tampaknya
badan seperti BAKOM PKB berharap
bahwa persamaan agama akan memudahkan pembauran. Itulah sebabnya malam itu
mereka ikut aktif. Dalam praktek, tentu saja, persamaan agama tak dengan
sendirinya melenyapkan jurang prasangka rasial.
Agama Islam sendiri memang
mengajarkan persaudaraan. Bilal yang bekas budak Negro diterima jadi tokoh Islam
penting dalam sejarah – satu adegan film The
Message yang mengharukan Junus Jahja. Nabi Muhammad s.a.w sendiri berkata
agar orang jangan segan mencari ilmu biarpun sampai ke negeri Cina. Dan di
“negeri Cina “ sendiri terdapat banyak orang Islam – bahkan baru baru ini
pemerintah RRC bermaksud membiayai pencetakan Qur’an kembali setelah golongan komunis radikal runtuh. Tapi
tidak terbatasnya Islam hanya buat “pri” saja agaknya masih perlu waktu untuk
dijadikan kesadaran umum.
Syarief Hidayatullah , yang sudah
10 tahun jadi muslim dan kini mubaligh PITI, masih sering diejek “Adul” – satu
ejekan buat keturunan Cina yang masuk Islam. “Sakit rasanya di kuping,” kata
Syarief dulu bernama Lauw Sin Hoat. Pengorbanan lain lazim datang dalam bentuk keterpisahan
dengan keluarga. Pheng She Djiang, mahasiswa Perguruan Tinggi Ilmu Qur’an
kelahiran Malang yang pernah berhasil dalam urutan juara MTQ tingkat propinsi,
masuk Islam 10 tahun yang lalu. Waktu itu orang tuanya menentang. “ Padahal
saya masih membutuhkan kasih sayang mereka,” kata Djiang yang kini baru 24
tahun. “Sedih sekali rasanya.”
Sulitnya, pengorbanan sedemikian
sering tak disadari kalangan Islam “pri” – yang umumnya jadi muslimin karena
orang tua mereka , dan biasanya lupa bahwa agama justru penting dalam mengatasi
kesempitan sukuisme atau rasialisme
( Tempo , 14 Juli 1979 )
Langganan:
Postingan (Atom)


































